BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa
pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Semua bentuk realita adalah
manifestasi alam ide. Karena pandangannya yang idealis itulah idealisme sering
disebut sebagai lawan dari aliran realisme. Tetapi, aliran ini justru muncul
atas feed back realisme yang menganggap realitas sebagai kebenaran tertinggi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah seorang idealis adalah anti realis, dan
demikian pula sebaliknya?
Secara logika, antara idealisme dan realisme tidak bisa dipertentangkan.
Sebab, pencetus idealisme (Plato) adalah murid dari pencetus realisme
(Socrates). Jika demikian, apakah mungkin Plato seorang idealis yang juga
realis? Dengan pertanyaan lain, apakah Sokrates yang realis juga seorang
idealis? Apa sesungguhnya hakekat ide dan riil atau materi itu?
Idealisme menganggap, bahwa yang konkret hanyalah bayang-bayang, yang
terdapat dalam akal pikiran manusia. Kaum idealisme sering menyebutnya dengan
ide atau gagasan. Seorang realisme tidak menyetujui pandangan tersebut. Kaum
realisme berpendapat bahwa yang ada itu adalah yang nyata, riil, empiris, bisa
dipegang, bisa diamati dan lain-lain. Dengan kata lain sesuatu yang nyata
adalah sesuatu yang bisa diindrakan (bisa diterima oleh panca indra).
Dalam konteks pendidikan, paham ini mencita-citakan pemikiran atau ide
tertinggi. Secara kelembagaan institusional, maka pendidikan akan didominasi
oleh fakultas atau jurusan filsafat dan pemikiran pendidikan. Di ranah
pendidikan dasar, akan didominasi oleh konsep-konsep dan pengertian-pengertian
secara devinitif tentang segala sesuatu. Tetapi, menurut psikologi perkembangan
peserta didik terdapat tahap-tahap perkembangan pemikiran siswa. Bagaimana
idealisme bisa diterapkan dalam tahap-tahap pemikiran peserta didik atau
manusia pada umumnya?
Metode yang digunakan oleh aliran idealisme adalah metode dialektik, syarat
dengan pemikiran, perenungan, dialog, dll. Dan akan menjadikan suasana proses
belajar mengajar menjadi aktif (active learning). Bagaimana jika peserta
didik pasif?
Kurikulum yang digunakan dalam aliran idealisme adalah pengembangan
kemampuan berpikir, dan penyiapan keterampilan bekerja melalui pendidikan
praktis. Bagaimana relevansinya dengan dunia modern yang serba positivistik,
yakni jauh lebih empiris dari pada realisme?
Evaluasi yang digunakan dalam aliran idealisme adalah dengan evaluasi esay.
Dimana evaluasi esay ini sangat efektif dalam proses belajar mengajar dan dalam
meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengerjakan soal. Bagaimana
evaluasi esay untuk siswa dasar sesuai pola perkembangan pemikirannya?
Idealisme merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia.
Sehingga sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia. Dalam
pendidikan, idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi
kemajuan pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang
digunakan. Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan
peserta didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam makalah ini, penulis akan mencoba
menguraikan lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan aliran filsafat
ideaisme.
B. Rumusan Masalah
1. apa yang di maksud
dengan realitas filsafat pendidikan idealisme ?
2. apa yang di maksud
dengan pengetahuan filsafat pendidikan idealisme ?
3. apa yang di maksud
dengan nilai filsafat pendidikan idealisme ?
4. apa yang di maksud
dengan pendidikan filsafat pendidikan idealisme ?
C. Tujuan
1. mengatahui apa yang
di maksud dengan realitas filsafat pendidikan idealisme.
2. mengetahui apa yang
di maksud dengan pengetahuan filsafat pendidikan idealisme.
3. mengetahui apa yang
di maksud dengan nilai filsafat pendidikan idealisme.
4. mengetahui apa yang
di maksud dengan pendidikan filsafat pendidikan idealisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mahzab-Mahzab Filsafat Pendidikan
Dalam filsafat terdapat berbagai mahzab atau
aliran-aliran. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat,
sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun
kita akan temukan berbagai alira dalam filsafat itu sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan
pada duan kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan “progresif”, dan filsafat pendidikan “konservatif”. Yang pertama, didukung
oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari
Rouusseau. Yang kedua, didasari oleh filsafat idealisme, realisme, humanisme
(humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme,
perenialisme dan sebagainya.
B. Filsafat Pendidikan Idealisme
1.
Realitas
Filsafat
idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik.
Parmenides, filosof dari Elea berkata “apa
yang tidak dapat dipikirkan adalah tidak nyata”. Plato, seorang filosof
idealisme klasik, menyatakan bahwa realitas terakhir adalah dunia cita. Dunia
cita merupakan dunia mutlak, tidak berubah, dan asli serta abadi. Realitas
akhir tersebut sebenarnya sudah ada sejak semula pada jiwa manusia.
Schoupenhaur menyatakan bahwa “dunia
adalah ide saya”. Menurut Hegel, dunia adalah roh, yang mengungkapkan diri
dalam alam, dengan maksud agar roh tersebut sadar akan dirinya ssendiri.
Hakikat roh dapat berupa ide atau pikiran. Mereka dapat mewakili pandangan
metafisika idealisme.
Termasuk
dalam paham idealisme adalah spiritualisme, rasionalisme dan supernaturalisme.
Bagi penganut aliran idealisme, fungsi mental adalah apa yang tampak dalam
tingkah laku. Oleh karena itu, jasmani atau badan sebagai materi merupakan alat
jiwa, alat roh, untuk melaksanakan tujuan, keinginan, dan dorongan jiwa
manusia.
Hakikat
manusia adalah jiwanya, rohnya, yakni apa yang disebut “mind”. Mind merupakan suatu wujud yang mampu menyadari dirinya,
bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua tingkah laku manusia. Jiwa (mind) merupakan faktor utama yang
menggerakkan semua aktivitas manusia, badan atau jasmani tanpa jiwa tidak
memiliki apa-apa.
Selanjutnya,
idealisme tidak menolak eksistensi dunia fisik di sekeliling kita, seperti
rumah, pepohonan, binatang, matahari, bintang-bintang yang terlihat muncul pada
malam hari. Mereka berpandangan bahwa kenyataan-kenyataan seperti itu merupakan
manifestasi dari realitasyang hanya memenuhi kebutuhan fisik.
Realitass
mungkin bersifat personal, dan mungkin saja bersifat impersonal. Idealisme
Katolik berpendapat bahwa realitass akhir adalah “God” dan tiga pribadi yang disebut “Trinitas”. Kaum idelisme Kristiani
sepakat dengan idealisme lainnya bahwa manusia adlahmakhluk spiritual
yang menggunakan kemauan bebas (free
will) dan secara personal bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Plato
menyatakan bahwa jiwa manusia sebagai “roh” yang berasal dari “ide” eksternal
dan sempurna. Bagi Immanuel Kant, manusia adlah bebas dan ditentukan. Manusia
bebas, sepanjang ia sebagai spirit (jiwa),
sedangkan ia terikat berarti manusia juga merupakan makhluk fisik yang tunduk
terhadap hukum alam.
Pandangan
tentang anak, kaum idealis yakin bahwa anak merupakan bagian dari alam
spiritual yang mamiliki pembawaan spiritual sesuai dengan potensialitasnya.
Apabila anak mempelajari dunia alamia, maka ia tidak akan melibatkan atau
menganggapnya sengai mesin yang hebat danbesar, yang berfungi tanpa isi dan
tujuan.
2.
PENGETAHUAN
Tentang teori pengetahuan,idealisme
mengemukakan pandangannya bahwa yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan
tidak lengkap,karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka,sifatnya maya(bayangan),yang
menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya. Pengetahuan yang benar hanya
merupakan hasil akal belaka karena akal dapat membedakan bentuk spiritual murni
dari benda-benda diluar penjelmaan material. Demikian menurut Plato.Idealisme
metafisik percaya bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang realitas,
karena realitas pada hakikatnya spiritual,sedangkan jiwa manusia merupakan
bagian dari subtansi spiritual tersebut.
Hegelmenguraikan konsep Plato
tentang teori pengetahuan dengan mengatakan bahwa pengetahuan dikatakan valid,sepanjang sistematis,maka
pengetahuan manusia tentang realitas adalah benar dalam arti sistematis.Dalam
teori pengetahuan dan kebenaran,idealisme merujuk pada rasionalisme dan teori
koherensi seperti yang telah disinggung pada bab sebelumnya.Teori koherensi
didasari oleh pendapat bahwa item-item partikular pengetahuan menjadi signifikan apabila dilihat dalam konteks
keseluruhan.Oleh karena itu,semua ide dan teori harus divalidasi sehubungan dengan koherensinya(kesesuaiannya) dalam
pengembangan sistem pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Seperti yang telah dikemukakan
diatas bahwa,teori pengetahuan idealisme adalah rasionalisme.Dalam hal ini
Henderson(1959:215)mengemukan bahwa :
The
rationalisht argue that our sense give us but the raw material from which
knowledge comes.Knowledge say they,is not to be found in sense –perception of
paticulars but in concept,in prinsiple,which our sense cannot possibly furnish
us the mind itsef is active,an organizer an systenalizer of our sensory
experience.For the rationalish,mathematic furnishes the correct pattern for
thought.
Jadi,rasionalismme mendasari teori
pengetahuan idealisme mengemukakan bahwa indera kita hanya memberikan materi
mentah bagi pengetahuan.Pengetahuan tidak ditemukan dan pengalaman indera
melainkan konsepsi dalam prinsi-prinsip sebagai hasil aktivitas jiwa.Jiwa
manusialah yang mengorganisasikan pengalaman indera.Matematika melengkapi pola
berpikir manusia.Dengan matematika manusia mampu mengembangkan inteleknya.Sains
fisik tidak akan berkembang tanpa menggunakan matematika.Indera dapat menipu
manusia yang berpikir,tidak sesuai dengan pengamatan sebagai laporan indera
dengan kenyataan,apalagi pengamatan indera bisa dipengaruhi oleh
ilusi,halusinasi, dan fantasi.
3.
Nilai
Menurut
pandangan idealisme nilai itu absolut apa yang dikatakan baik, benar, salah
atau pun tidak cantik. Secara fudamental nilai itu tidak berubah dari generasi
kegenerasi. Pada hakekatnya nilai itu bersift tetap. Nilai tidak diciptkan
manusia,melainkan bagian dari alam semesta.
Plato
mengemukakan bahwa manusia tahu apa yang dilakukan sebagai hidup baiak, mereka
tidak akan berbuat hal-hal yang akn bertentangan moral kejahatan terjadi karena
orang tidak thau bahwa perbuatan itu jahat.jika seseorang menemukan sesuatu
yang benar, maka orang tersebut tidak akan bersalah.Namun yang menjadi
persoalan adalah, bagaimana hal tersebut dapat dilakukan apabila manusia
memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam pikirannya tentang hidup yang
baik.
Imperative
kategoris dan imperative praktis merupakan perlakukan dan perbuatan
kemanusiaan, baik mengenai diri sendiri maupun orang lain. Pandanglah manusia
sebagai tujuan, bukan sebagai alat semata. Setiap manusia memangang dirinya
sebagai tujuan sebagai nilai ynag datang dan berada dalam dirinya sendiri.
Tidak dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan orang lain. Manusia memiliki
nilai dan harkat kemanusiaan yang tidak terbatas sebagai mahluk manusia.
4.
pendididkan
Dalam
hubungannya dengan pendididkan.Idealisme memeberikan sumbangan yang besar
terhadap teori pendidikan. Khususnya filsafat pendidikan. Tokoh idealisme
merupakan orang-orang yang mempunyai nama besar. Sampai sekarang orang akan
mengakui kebesaran hasil pemikirannya,baik memberikan persetujuan maupun
memberikan kritik,bahkan penolakan Plato,Immanuel Kant,David
Hume,Hegel,Al-Gazali,merupakan orang-orang yang memilki nama besar di kalangan
pemikir dewasa ini. Idealisme Hegel
berpengaruh besar di Amerika Serikat,seperti W.T.Harris telah menerapkan filsafat Hegel dalam memecahkan masalah
pendidikan.Bahkan John Dewey sebagai tokoh pragmatism,memulai filsafatnya
sebagai penganit paham Hagel,dimana dapat kita simak bahwa filsafat Dewey mulai
atau mencoba mencari kesatuan antara pertentangan-pertentangan(dimulai dengan
dialetika Hagel). Begitu pula kita lihat Karl Rosenkranz dan Herman Home
merupakan orang-orang yang menyuarakan filsafat pendidikan idelaisme Al-Gazali.
Filsafat idealisme pendidikan diturunkan dari filsafat
idelisme metatafisik. Yang menekankan pertumbuhan rohani. Kaum idelisme percaya
bahwa anak adalah bagian dari alam spiritual,yang memiliki pembawaan spiritual
sesuai dengan potensialnya. Oleh karena itu pendidikan harus mengajarkan
hubungan antara anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan harus menekankan kesesuian batin antara anak
dan alam semesta.Selanjutnya,menurut
Horne, pendidikan merupakan proses abadi dari proses penyesuian dan
perkembangan mental maupun fisik,bebas,dan sadar terhadap Tuhan.
Dimanifestasikan dalam
lingkungan intelektual ,emosional,dan
berkemauan. Pendidikan
merupakan pertumbuhan kearah
tujuan.Yaitu pribadi manusia yang ideal.
Seorang guru yang
menganut paham idealism harus membimbing dan mendiskusikan bukan sebagai
prinsip-prinsip eksternal kepada siswa. Guru idealis juga harus mewujudkan
sedapat mungkin watak yang terbaik. Socrates ,Plato dan Kant yakin bahwa pengetahuan terbaik adalah
pengetahuan yang dikeluarkan dari dalam diri siswa,bukan dimasukan atau dijejalkan
kedalam diri siswa. Sehubungan dengan teori pengetahuan,intelek atau akal
pemegang peran yang sangat penting dan menentukan dalam proses belajar
mengajar. Mereka yakin bahwa akal manusia dapat memperoleh pengetahuan dari
kebenaran sejati. Jadi, pengetahuan yang diajarkan sekolah harus bersifat
intelektual. Filsafat,logika,bahasa,dan matematika akan memperoleh porsi yang
besar dalam kurikulum sekolah,Inilah konsep pendidikan yang berdasarkan
pandangan idealisme.
Yang terakhir berkaitan dengan teori nilai, kepada para
siswa dijarkan nilai-nilai tetap,abadi dan bagaimana melaksanakannya yang
berurusan dengan pencipta nilai, pencipta alam semesta.
Menurut Kant, guru harus memandang anak sebagai tujuan
bukan sebagai alat. Guru harus bertanya
pada dirinya sendiri, apakah ia merupakan contoh yang baik untuk diterima oleh
siswanya. Idealisme memiliki tujuan pendidikan pasti dan abadi,dimana tujuan
itu berada diluar kehidupan sekarang ini. Tujuan pendidikan idealisme akan berada di luar kehidupan itu sendiri, yaitu
manusia yang mampu mencapai dunia cita, manusia yang mampu mencapai dan menik
-mati kehidupan abadi, yang berasal dari Tuhan.
Power (1982 :89)
mengemukankan implikasi filsafat pendidikan Idealisme sebagai berikut :
1.
Tujuan Pendidikan
Pendidikan
formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau
kemampuan dasar,serta kebaikan social.
2.
Kedudukan Siswa
Bebas
memngembangkan kemampuan dan kepribadian dasar bakatnya.
3.
Peran Guru
Bekerja
sama dengan alma dalam proses pengembangan manusia terutama bertanggung jawab
dalam menciptakan lingkungan pendidikan siswa.
4.
Kurikulum
Pendidikan
liberal untuk mengembangkan pengembangan kemampuan rasional dan pendidikan
praktis untuk memperoleh pekerjaan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan paparan penulis di atas, dapat disimpulkan antara lain :
Idealisme adalah merupakan salah satu aliran filsafat yang mempunyai paham
bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan
roh. Tokoh –tokoh dalam idealisme diantaranya yaitu : Rene Descartes
(1596-1650) , George Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1804), F. W. S.
Schelling (1775-1854), dan George W. F. Hegel (1770-1831). Seorang idealis
dalam pemikiran pendidikan yang paling berpengaruh di Amerika adalah William T.
Haris yang menggagas journal of speculative philosophy.
Implikasi filsafat
idealisme dalam pendidikan adalah sebagai berikut :
a.
Tujuan, untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau kemampuan dasar,
serta kebaikan sosial.
b.
Kurikulum, pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan pendidikan
praktis untuk memperoleh pekerjaan.
c.
Metode, diutamakan metode dialektika (saling mengaitkan ilmu yang satu
dengan yang lain), tetapi
metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
d.
Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan
kemampuan dasarnya.
e.
Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui
kerja sama dengan alam.
B.
Saran
Saran yang bisa diberikan penulis adalah sebagai
manusia dalam melakukan segala sesuatu sebaiknya mempertimbangkannya dulu.
Yaitu melalui pemikiran (rasio atau akal), agar hasil yang akan didapatkan itu
lebih baik dan memuaskan. Hasilnya akan berbeda jika dalam menentukan sesuatu
tanpa melalui pertimbangan dan pemikiran, tentu kurang memuaskan.
Sebagai calon seorang guru, hendaknya pendidik
bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama
dengan alam. Pendidik memenuhi akal peserta didik dengan hakikat dan
pengetahuan yang tepat. Dengan kata lain guru harus menyiapkan situasi dan
kondisi yang kondusif untuk pembelajaran, serta lingkungan yang ideal bagi
perkembangan mereka, kemudian membimbing mereka dengan ide-ide yang dipelajarinya
hingga sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya.
Dalam makalah ini tentunya masih ada kesalahan,
oleh karena itu penulis berharap agar pembaca tidak mengulangi kesalahan
tersebut. Dan semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat umum. Tidak lupa penulis
berterimakasih kepada pembaca atas partisipasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Sadulloh,
Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan.
Bandung : Alfabeta.
0 komentar:
Posting Komentar