Filsafat Pendidikan Aliran Idealisme



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Semua bentuk realita adalah manifestasi alam ide. Karena pandangannya yang idealis itulah idealisme sering disebut sebagai lawan dari aliran realisme. Tetapi, aliran ini justru muncul atas feed back realisme yang menganggap realitas sebagai kebenaran tertinggi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah seorang idealis adalah anti realis, dan demikian pula sebaliknya?
Secara logika, antara idealisme dan realisme tidak bisa dipertentangkan. Sebab, pencetus idealisme (Plato) adalah murid dari pencetus realisme (Socrates). Jika demikian, apakah mungkin Plato seorang idealis yang juga realis? Dengan pertanyaan lain, apakah Sokrates yang realis juga seorang idealis? Apa sesungguhnya hakekat ide dan riil atau materi itu?
Idealisme menganggap, bahwa yang konkret hanyalah bayang-bayang, yang terdapat dalam akal pikiran manusia. Kaum idealisme sering menyebutnya dengan ide atau gagasan. Seorang realisme tidak menyetujui pandangan tersebut. Kaum realisme berpendapat bahwa yang ada itu adalah yang nyata, riil, empiris, bisa dipegang, bisa diamati dan lain-lain. Dengan kata lain sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang bisa diindrakan (bisa diterima oleh panca indra).
Dalam konteks pendidikan, paham ini mencita-citakan pemikiran atau ide tertinggi. Secara kelembagaan institusional, maka pendidikan akan didominasi oleh fakultas atau jurusan filsafat dan pemikiran pendidikan. Di ranah pendidikan dasar, akan didominasi oleh konsep-konsep dan pengertian-pengertian secara devinitif tentang segala sesuatu. Tetapi, menurut psikologi perkembangan peserta didik terdapat tahap-tahap perkembangan pemikiran siswa. Bagaimana idealisme bisa diterapkan dalam tahap-tahap pemikiran peserta didik atau manusia pada umumnya?
Metode yang digunakan oleh aliran idealisme adalah metode dialektik, syarat dengan pemikiran, perenungan, dialog, dll. Dan akan menjadikan suasana proses belajar mengajar menjadi aktif (active learning). Bagaimana jika peserta didik pasif?
Kurikulum yang digunakan dalam aliran idealisme adalah pengembangan kemampuan berpikir, dan penyiapan keterampilan bekerja melalui pendidikan praktis. Bagaimana relevansinya dengan dunia modern yang serba positivistik, yakni jauh lebih empiris dari pada realisme?
Evaluasi yang digunakan dalam aliran idealisme adalah dengan evaluasi esay. Dimana evaluasi esay ini sangat efektif dalam proses belajar mengajar dan dalam meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengerjakan soal. Bagaimana evaluasi esay untuk siswa dasar sesuai pola perkembangan pemikirannya?
Idealisme merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia. Sehingga sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia. Dalam pendidikan, idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan. Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.  Dalam makalah ini, penulis akan mencoba menguraikan lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan aliran filsafat ideaisme.
B.  Rumusan Masalah
1. apa yang di maksud dengan realitas filsafat pendidikan idealisme ?
2. apa yang di maksud dengan pengetahuan filsafat pendidikan idealisme ?
3. apa yang di maksud dengan nilai filsafat pendidikan idealisme ?
4. apa yang di maksud dengan pendidikan filsafat pendidikan idealisme ?

C. Tujuan
1. mengatahui apa yang di maksud dengan realitas filsafat pendidikan idealisme.
2. mengetahui apa yang di maksud dengan pengetahuan filsafat pendidikan idealisme.
3. mengetahui apa yang di maksud dengan nilai filsafat pendidikan idealisme.
4. mengetahui apa yang di maksud dengan pendidikan filsafat pendidikan idealisme.





























BAB II
PEMBAHASAN

A.  Mahzab-Mahzab Filsafat Pendidikan

Dalam filsafat terdapat berbagai mahzab atau aliran-aliran. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai alira dalam filsafat itu sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada duan kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan “progresif”, dan filsafat pendidikan “konservatif”. Yang pertama, didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Rouusseau. Yang kedua, didasari oleh filsafat idealisme, realisme, humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme dan sebagainya.

B.  Filsafat Pendidikan Idealisme
1.      Realitas
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Parmenides, filosof dari Elea berkata “apa yang tidak dapat dipikirkan adalah tidak nyata”. Plato, seorang filosof idealisme klasik, menyatakan bahwa realitas terakhir adalah dunia cita. Dunia cita merupakan dunia mutlak, tidak berubah, dan asli serta abadi. Realitas akhir tersebut sebenarnya sudah ada sejak semula pada jiwa manusia. Schoupenhaur menyatakan bahwa “dunia adalah ide saya”. Menurut Hegel, dunia adalah roh, yang mengungkapkan diri dalam alam, dengan maksud agar roh tersebut sadar akan dirinya ssendiri. Hakikat roh dapat berupa ide atau pikiran. Mereka dapat mewakili pandangan metafisika idealisme.
Termasuk dalam paham idealisme adalah spiritualisme, rasionalisme dan supernaturalisme. Bagi penganut aliran idealisme, fungsi mental adalah apa yang tampak dalam tingkah laku. Oleh karena itu, jasmani atau badan sebagai materi merupakan alat jiwa, alat roh, untuk melaksanakan tujuan, keinginan, dan dorongan jiwa manusia.
Hakikat manusia adalah jiwanya, rohnya, yakni apa yang disebut “mind”. Mind merupakan suatu wujud yang mampu menyadari dirinya, bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua tingkah laku manusia. Jiwa (mind) merupakan faktor utama yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan atau jasmani tanpa jiwa tidak memiliki apa-apa.
Selanjutnya, idealisme tidak menolak eksistensi dunia fisik di sekeliling kita, seperti rumah, pepohonan, binatang, matahari, bintang-bintang yang terlihat muncul pada malam hari. Mereka berpandangan bahwa kenyataan-kenyataan seperti itu merupakan manifestasi dari realitasyang hanya memenuhi kebutuhan fisik.
Realitass mungkin bersifat personal, dan mungkin saja bersifat impersonal. Idealisme Katolik berpendapat bahwa realitass akhir adalah “God” dan tiga pribadi yang disebut “Trinitas”. Kaum idelisme Kristiani  sepakat dengan idealisme lainnya bahwa manusia adlahmakhluk spiritual yang menggunakan kemauan bebas (free will) dan secara personal bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Plato menyatakan bahwa jiwa manusia sebagai “roh” yang berasal dari “ide” eksternal dan sempurna. Bagi Immanuel Kant, manusia adlah bebas dan ditentukan. Manusia bebas, sepanjang ia sebagai spirit (jiwa), sedangkan ia terikat berarti manusia juga merupakan makhluk fisik yang tunduk terhadap hukum alam.
Pandangan tentang anak, kaum idealis yakin bahwa anak merupakan bagian dari alam spiritual yang mamiliki pembawaan spiritual sesuai dengan potensialitasnya. Apabila anak mempelajari dunia alamia, maka ia tidak akan melibatkan atau menganggapnya sengai mesin yang hebat danbesar, yang berfungi tanpa isi dan tujuan.



2. PENGETAHUAN
            Tentang teori pengetahuan,idealisme mengemukakan pandangannya bahwa yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap,karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka,sifatnya maya(bayangan),yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya. Pengetahuan yang benar hanya merupakan hasil akal belaka karena akal dapat membedakan bentuk spiritual murni dari benda-benda diluar penjelmaan material. Demikian menurut Plato.Idealisme metafisik percaya bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang realitas, karena realitas pada hakikatnya spiritual,sedangkan jiwa manusia merupakan bagian dari subtansi spiritual tersebut.
            Hegelmenguraikan konsep Plato tentang teori pengetahuan dengan mengatakan bahwa pengetahuan dikatakan valid,sepanjang sistematis,maka pengetahuan manusia tentang realitas adalah benar dalam arti sistematis.Dalam teori pengetahuan dan kebenaran,idealisme merujuk pada rasionalisme dan teori koherensi seperti yang telah disinggung pada bab sebelumnya.Teori koherensi didasari oleh pendapat bahwa item-item partikular pengetahuan menjadi signifikan apabila dilihat dalam konteks keseluruhan.Oleh karena itu,semua ide dan teori harus divalidasi sehubungan dengan koherensinya(kesesuaiannya) dalam pengembangan sistem pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
            Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa,teori pengetahuan idealisme adalah rasionalisme.Dalam hal ini Henderson(1959:215)mengemukan bahwa :
The rationalisht argue that our sense give us but the raw material from which knowledge comes.Knowledge say they,is not to be found in sense –perception of paticulars but in concept,in prinsiple,which our sense cannot possibly furnish us the mind itsef is active,an organizer an systenalizer of our sensory experience.For the rationalish,mathematic furnishes the correct pattern for thought.
           Jadi,rasionalismme mendasari teori pengetahuan idealisme mengemukakan bahwa indera kita hanya memberikan materi mentah bagi pengetahuan.Pengetahuan tidak ditemukan dan pengalaman indera melainkan konsepsi dalam prinsi-prinsip sebagai hasil aktivitas jiwa.Jiwa manusialah yang mengorganisasikan pengalaman indera.Matematika melengkapi pola berpikir manusia.Dengan matematika manusia mampu mengembangkan inteleknya.Sains fisik tidak akan berkembang tanpa menggunakan matematika.Indera dapat menipu manusia yang berpikir,tidak sesuai dengan pengamatan sebagai laporan indera dengan kenyataan,apalagi pengamatan indera bisa dipengaruhi oleh ilusi,halusinasi, dan fantasi.

3. Nilai
Menurut pandangan idealisme nilai itu absolut apa yang dikatakan baik, benar, salah atau pun tidak cantik. Secara fudamental nilai itu tidak berubah dari generasi kegenerasi. Pada hakekatnya nilai itu bersift tetap. Nilai tidak diciptkan manusia,melainkan bagian dari alam semesta.
Plato mengemukakan bahwa manusia tahu apa yang dilakukan sebagai hidup baiak, mereka tidak akan berbuat hal-hal yang akn bertentangan moral kejahatan terjadi karena orang tidak thau bahwa perbuatan itu jahat.jika seseorang menemukan sesuatu yang benar, maka orang tersebut tidak akan bersalah.Namun yang menjadi persoalan adalah, bagaimana hal tersebut dapat dilakukan apabila manusia memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam pikirannya tentang hidup yang baik.
Imperative kategoris dan imperative praktis merupakan perlakukan dan perbuatan kemanusiaan, baik mengenai diri sendiri maupun orang lain. Pandanglah manusia sebagai tujuan, bukan sebagai alat semata. Setiap manusia memangang dirinya sebagai tujuan sebagai nilai ynag datang dan berada dalam dirinya sendiri. Tidak dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan orang lain. Manusia memiliki nilai dan harkat kemanusiaan yang tidak terbatas sebagai mahluk manusia.

4. pendididkan
Dalam hubungannya dengan pendididkan.Idealisme memeberikan sumbangan yang besar terhadap teori pendidikan. Khususnya filsafat pendidikan. Tokoh idealisme merupakan orang-orang yang mempunyai nama besar. Sampai sekarang orang akan mengakui kebesaran hasil pemikirannya,baik memberikan persetujuan maupun memberikan kritik,bahkan penolakan Plato,Immanuel Kant,David Hume,Hegel,Al-Gazali,merupakan orang-orang yang memilki nama besar di kalangan pemikir  dewasa ini. Idealisme Hegel berpengaruh besar di Amerika Serikat,seperti W.T.Harris telah menerapkan  filsafat Hegel dalam memecahkan masalah pendidikan.Bahkan John Dewey sebagai tokoh pragmatism,memulai filsafatnya sebagai penganit paham Hagel,dimana dapat kita simak bahwa filsafat Dewey mulai atau mencoba mencari kesatuan antara pertentangan-pertentangan(dimulai dengan dialetika Hagel). Begitu pula kita lihat Karl Rosenkranz dan Herman Home merupakan orang-orang yang menyuarakan filsafat pendidikan idelaisme Al-Gazali.
            Filsafat idealisme pendidikan diturunkan dari filsafat idelisme metatafisik. Yang menekankan pertumbuhan rohani. Kaum idelisme percaya bahwa anak adalah bagian dari alam spiritual,yang memiliki pembawaan spiritual sesuai dengan potensialnya. Oleh karena itu pendidikan harus mengajarkan hubungan antara anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan  harus menekankan kesesuian batin antara anak dan alam semesta.Selanjutnya,menurut  Horne, pendidikan merupakan proses abadi dari proses penyesuian dan perkembangan mental maupun fisik,bebas,dan sadar terhadap Tuhan.
Dimanifestasikan dalam lingkungan intelektual ,emosional,dan
berkemauan. Pendidikan merupakan pertumbuhan  kearah tujuan.Yaitu pribadi manusia yang ideal.
            Seorang guru yang  menganut paham idealism harus membimbing dan mendiskusikan bukan sebagai prinsip-prinsip eksternal kepada siswa. Guru idealis juga harus mewujudkan sedapat mungkin watak yang terbaik. Socrates ,Plato dan Kant  yakin bahwa pengetahuan terbaik adalah pengetahuan yang dikeluarkan dari dalam diri siswa,bukan dimasukan atau dijejalkan kedalam diri siswa. Sehubungan dengan teori pengetahuan,intelek atau akal pemegang peran yang sangat penting dan menentukan dalam proses belajar mengajar. Mereka yakin bahwa akal manusia dapat memperoleh pengetahuan dari kebenaran sejati. Jadi, pengetahuan yang diajarkan sekolah harus bersifat intelektual. Filsafat,logika,bahasa,dan matematika akan memperoleh porsi yang besar dalam kurikulum sekolah,Inilah konsep pendidikan yang berdasarkan pandangan idealisme.
            Yang terakhir berkaitan dengan teori nilai, kepada para siswa dijarkan nilai-nilai tetap,abadi dan bagaimana melaksanakannya yang berurusan dengan pencipta nilai, pencipta alam semesta.
            Menurut Kant, guru harus memandang anak sebagai tujuan bukan sebagai alat.  Guru harus bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia merupakan contoh yang baik untuk diterima oleh siswanya. Idealisme memiliki tujuan pendidikan pasti dan abadi,dimana tujuan itu berada diluar kehidupan sekarang ini. Tujuan pendidikan idealisme akan  berada di luar kehidupan itu sendiri, yaitu manusia yang mampu mencapai dunia cita, manusia yang mampu mencapai dan menik -mati kehidupan abadi, yang berasal dari Tuhan.
            Power (1982 :89)  mengemukankan implikasi filsafat pendidikan  Idealisme sebagai berikut :
1.      Tujuan Pendidikan
Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar,serta kebaikan social.
2.      Kedudukan Siswa
Bebas memngembangkan kemampuan dan kepribadian dasar bakatnya.
3.      Peran Guru
Bekerja sama dengan alma dalam proses pengembangan manusia terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan siswa.
4.      Kurikulum
Pendidikan liberal untuk mengembangkan pengembangan kemampuan rasional dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.






BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Berdasarkan paparan penulis di atas, dapat disimpulkan antara lain :
Idealisme adalah merupakan salah satu aliran filsafat yang mempunyai paham bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Tokoh –tokoh dalam idealisme diantaranya yaitu : Rene Descartes (1596-1650) , George Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1804), F. W. S. Schelling (1775-1854), dan George W. F. Hegel (1770-1831). Seorang idealis dalam pemikiran pendidikan yang paling berpengaruh di Amerika adalah William T. Haris yang menggagas journal of speculative philosophy.
Implikasi filsafat idealisme dalam pendidikan adalah sebagai berikut :
a.         Tujuan, untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
b.        Kurikulum, pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
c.         Metode, diutamakan metode dialektika (saling mengaitkan ilmu yang satu dengan yang lain), tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
d.        Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya.
e.         Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam.

B.    Saran
Saran yang bisa diberikan penulis adalah sebagai manusia dalam melakukan segala sesuatu sebaiknya mempertimbangkannya dulu. Yaitu melalui pemikiran (rasio atau akal), agar hasil yang akan didapatkan itu lebih baik dan memuaskan. Hasilnya akan berbeda jika dalam menentukan sesuatu tanpa melalui pertimbangan dan pemikiran, tentu kurang memuaskan.
Sebagai calon seorang guru, hendaknya pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam. Pendidik memenuhi akal peserta didik dengan hakikat dan pengetahuan yang tepat. Dengan kata lain guru harus menyiapkan situasi dan kondisi yang kondusif untuk pembelajaran, serta lingkungan yang ideal bagi perkembangan mereka, kemudian membimbing mereka dengan ide-ide yang dipelajarinya hingga sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya.
Dalam makalah ini tentunya masih ada kesalahan, oleh karena itu penulis berharap agar pembaca tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dan semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat umum. Tidak lupa penulis berterimakasih kepada pembaca atas partisipasinya.






















DAFTAR PUSTAKA

Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : Alfabeta.


Supervisi Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

        Kemampuan mengajar memerlukan seperangkat pengetahuan dan keterampilan tertentu, agar dapat melaksanakan tugasnya dengan semestimya. Kemampuan mengajar mulai dibentuk sejak para mahasiswa calon guru mengikuti perkuliahan pada lembaga pendidikan guru. Selanjutnya keterampilan mengajar dapat dikembangkan / ditingkatkan melalui pembinaan dalam jabatan di lapangan, hal ini dapat dilakukan dengan usaha mandiri maupun dengan bantuan orang lain. Pekerjaan memberi bantuan tadi disebut supervisi dan pemberi bantuan disebut supervisor.

        Pengelolaan supervisi pendidikan di sekolah-sekolah, berbeda sasaran, tujuan dan esensinya jika dibandingkan dengan pengelolaan kegiatan inspeksi. Kegiatan inspeksi memiliki sasaran, tujuan dan esensi lebih ke pangawasan yang mencari-cari kesalahan dan bersifat mendadak atau tanpa dirancang terlebih dahulu. Kegiatan supervisi pendidikan memiliki tujuan, sasaran dan esensi yang lebih bernuansa pembinaan dalam rangka membantu meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar guru di kelasnya, dan dilaksanakan secara terprogram. Namun, dalam pelaksanaan pengelolaan supervisi pendidikan masih dipandang perlu memantapkan lagi tentang tata cara pelaksanaannya agar dapat meningkatkan peningkatan mutu pendidikan. Selanjutnya, untuk menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, seorang guru harus mengetahui bagaimana cara mengelola mutu pendidikan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Jelaskan pengertian, tujuan, dan fungsi supervisi pendidikan ?
2.      Jelaskan prinsip dan teknik supervisi pendidikan ?
3.      Jelaskan beberapa pendekatan supervisi ?
4.      Jelaskan supervisi klinis ?
5.      Jelaskan pembinaan guru ?

C.    Tujuan

1.      Memahami pengertian, tujuan, dan fungsi supervisi pendidikan.
2.      Memahami prinsip dan teknik supervisi pendidikan.
3.      Memahami beberapa pendekatan supervisi.
4.      Memahami supervisi klinis.
5.      Memahami pembinaan guru.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Supervisi Pendidikan

1.    Pengertian Supervisi Pendidikan
a.       Pengerian supervisi menurut beberapa pandangan
·           Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan – orang yang berposisi diatas, pimpinan – terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata – mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
·           Secara sematik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.
·           Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan
b.      Pengertian supervisi menurut para ahli
·           Good Carter, Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.  God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar,
·           Boardman, Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern. Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.
·           Wilem Mantja (2007), Mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan  supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan
·           Kimball Wiles (1967), Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation”. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yg lebih baik.
·           Mulyasa (2006), supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas.
·           Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang supervisi sebagai pelayanan kapada guru – guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan.
·           Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif. 
Jadi, Supervisi adalah kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan prestasi pendidikan. Atau bantuan yang diberikan kepada guru dan seluruh staf untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih baik.
2.    Tujuan Supervisi Pendidikan
a.         Tujuan umum  
     Tujuan umum supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru (dan staf sekolah yang lain) agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran.
b.         Tujuan khusus
·      Meningkatkan kinerja siswa sekolah dalam perannya sebagai peserta didik yang belajar dengan semangat tinggi, agar dapat mencapai prestasi belajar secara optimal.
·           Meningkatkan mutu kinerja guru sehingga berhasil membantu dan membimbing siswa mencapai prestasi belajar yang diharapkan.
·           Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik di dalam proses pembelajaran di sekolah serta mendukung dimilikinya kemampuan pada diri lulusan sesuai dengan tujuan lembaga.
·           Meningkatkan keefektifan dan keefisiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan belajar siswa.
·           Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kinerja yang optimal, yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.
·           Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sedemikian rupa sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif bagi kehidupan sekolah pada umumnya, khususnya pada kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.

3.    Fungsi Supervisi Pendidikan
a.         Supervisi berfungsi sebagai penggerak perubahan, seringkali guru menganggap tugas mengajar sebagai pekerjaan rutin dari waktu ke waktu, Tidak mengalami perubahan baik dari materi ataupun metode. Keadaan demikian perlu ada inisiatif dari kepala sekolah atau supervisor untuk mengarahkan guru agar melakukan pembaharuan materi belajar sesuai dengan kemajuan IPTEK dan lingkungan;
b.         Supervisi berfungsi sebagai program pelayanan, untuk memajukan pengajaran, dalam situasi belajar sering terjadi masalah baik oleh guru ataupun oleh siswa. Guru sering mengalamai kesulitan dalam merencanakan, merencanakan dan mengevalusi pembelajaran. Maka, dalam hal ini supervisor memberikan arahan dan bimbingan kepada guru agar dapat mengelola pembelajaran lebih efektif termasuk menyelsaikan masalah-masalah belajar siswa;
c.         Supervisi berfungsi meningkatkan kemampuan hubungan manusia untuk mencapai tujuan, guru ataupun Kepala Sekolah tidak melakukan sendiri, peru adanya kerjasama dengan masyarakat. Kenyataannya tidak semua guru dan kepala sekolah mempu melaksanakan hubungan kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Maka tugas supervisor membantu guru mengenali diri dan mengenali tugas-tugasnya serta menyelesaikannya. Yang terpenting adalah membantu guru dan kepala sekolah untuk meningkatkan kerjsama dengan orang tua siswa, masyarakat atau dengan instansi terkait;
d.        Supervisi sebagai kepemimpinan kooperatif, keberhasilan supervisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan supervisor dalam menjalankan tugas dan fungsinya akan tetapi memerlukan dukungan dan partisipasi dari kepala sekolah, guru-guru, konselor dan orang tua siswa secara bersama-sama ikut memkirkan perkembanan anak didik ke arah tercapainya tujuan sekolah. Oleh karena itu, tugas supervisor tidak hanya menilai kinerja guru tetapi turut membantu guru untuk memajukan proses pembelajaran.

B.     Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan

1.    Prinsip Supervisi Pendidikan
a.         Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari kesalahan.
b.         Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.
c.         Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.
d.        Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.
e.         Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.
f.          Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal – hal penting yang diperlukan untuk membuat laporan.

2.    Teknis Supervisi Pendidikan
a.           Kunjungan kelas
      Supervisor memasuki ruang kelas pada pelaksaan KBM. Teknik ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
·           Direncanakan pengawas dan diberitahukan kepada guru yang bersangkutan.
·           Direncanakan oleh pengawas, tetapi tidak diberitahukan kepada guru yang bersangkutan.
·           Direncanakan oleh guru, kemudian mengundang pengawas.
Kunjungan kelas ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dalam rangka peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran bukan menentukan kondite.
b.         Pertemuan pribadi
     Pertemuan pribadi adalah dialog antara pengawas dan guru mengenai usaha usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Pertemuan pribadi dilakukan dengan dua cara, yaitu:
·           Pertemuan pribadi sebelum kunjungan kelas
Pertemuan ini membicarakan upaya perbaikan proses pembelajaran sehingga akan menjadi fokus obserfasi kelas.
·           Pertemuan pribadi sesudah kunjungan kelas.
Pertemuan ini membicarakan kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan sehingga menjadi umpan balik bagii guru untuk memperbaiki dan meninghkatkan proses pembelajaran.
c.         Rapat dewan guru
      Rapat dewan guru merupakan pertemuan antar semua guru dan kepala sekolah yang membicarakan berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran. Maksud rapat dewan guru:
·           Mengatur seluruh anggota staff agar memiliki kesamaan tujuan.
·           Mendorong anggota agar mengetahui tangung jawab masing-masing.
·           Bersama-sama menentukan cara yang dapat dilakukan perbaikan PBM.
·            Meningkatkan arus komunikasi dan informasi.
d.         Kunjungan antar kelas
     Guru dikelas yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam satu lingkungan sekolah.
e.          Kunjungan sekolah
     Pengawas mengunjungi sekolah secara teratur untuk memberikan pembinaan, baik dengan pemberitahuan maupun mendadak atau atas undangan guru atau kepala sekolah.
f.          Kunjungan antar sekolah
     Guru-guru atau staff mengunjungi sekolah-sekolah yang dinilai berhasil dan patut dijadikan contoh. Pengawas dapat memanfaatkan guru sekolah lain untuk memberikan pembinaan.
g.         Penerbitan buletin profesional
     Buletin profesional ialah selebaran berkala yang berisi topik-topik tetentu berkaitan dengan usaha peningkatan proses belajar-mengajar. Buletin ini tidak haru sditulis oleh para ahli, tetapi semua guru atau staff yang telah mempunyai pengalaman keberhasilan dalam proses pembelajaran.
h.         Penataran atau pendidikan dan pelatihan
     Penataran atau diklat dapat dilaksanakan dari sekolah sendiri atau mengikuti program yang dilaksanakan oleh pihak-pihak tertentu.

C.    Pendekatan Supervisi Pendidikan

beberapa pendekatan supervisi yang dikemukakan oleh Wahyudi adalah pendekatan kolegial, pendekatan individual, pendekatan klinis dan pendekatan artistik dalam pengajaran.

1.    Pendekatan Kolegial
Supervisi kolegial atau yang biasa disebut supervisi rekanan diistilahkan dalam beberapa nama antara lain, peer supervision, cooperative professional development dan bahkan sering dikatakan collaborative supervision. Supervisi kolegial sebagai proses formal moderat dimana dua orang guru atau lebih bekerjasama untuk kepentingan perkembangan profesional guru. Bentuk supervisi kolegial menurut Kimbrough adalah :
a.          Pertemuan guru-guru dengan agnda yang jelas dan membicarakan topik-topik
   yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan di sekolah;
b.         Lokakarya (workshops) yaitu dengan kegiatan kelompok yang terdiri dari Kepala Sekolah, Supervisor (Pengawas) dan guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui percakapan dan bekerja secara kelompok;
c.         Observasi sesama guru di kelas yaitu dengan melibatkan sesama rekan guru secara bergantian untuk melihat dan menilai kegiatan pembelajaran di Kelas dengan keberhasilan dan kekurangannya.

2.    Pendekatan Individual
Pendekatan ini disebut dengan wawancara individual yaitu kesempatan yang diciptakan oleh pengawas atau kepala sekolah untuk bekerja secara individual dengan guru sehubungan dengan masalah-masalah profesionalnya. Pendekatan ini, menekankan pada tanggung jawab pribadi guru terhadap prfesionalismenya. Bentuk dari pendekatan ini adalah guru membuat rancangan pembelajaran, selanjutnya disampaikan kepada supervisor, Kepala Sekolah atau pihak lain yang kompeten. Pada akhir semester, biasanya guru dan supervisor bertemu untuk membicarakan kendala yang dihadapi selama melaksanakan program pembelajaran. Pendekaran ini cocok bagi guru yang lebih suka bekerja sendiri.
3.    Pendekata Klinis
Pendekatan klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan pembelajaran dengan tahapan atau siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang logis dan intensif mengenai penampilan mengajar yang nyata dalam mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. Ada beberapa tahapan perencanaan supervisi klinis:
a.         Tahap pertemuan awal, merupakan pembuatan kerangka kerja, karena itu perlu diciptakan suasana akrab dan terbuka antara supervisor dengan guru sehingga guru merasa percaya diri dan memahami tujuan diadakan pendekatan klinis;
b.         Tahap obsevasi kelas, guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai pedoman dan prosedur yang disepakati pada tahap awal. Selanjutnya supervisor melakukan observasi berdasarkan instrumen yang telah dibuat dan disepakati dengan guru. Setelah observasi, sepervisor mengumpulkan informasi untuk membantu guru dalam menganalisis pembelajaran;
c.         Tahap pertemuan akhir atau balikan, supervisor mengevaluasi hal-hal yang terjadi selama observasi dan seluruh siklus proses supevisi dengan tujuan meningkatkan perfomansi guru. Pertemuan akhir ini merupakan diskusi umpan balik antara suprvisor dan guru. Supervisor memaparkan data objektif sehingga guru dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan selama pembelajaran berlangsung. Dasar dari balikan terhadap guru adalah kesepakatan tentang item-ite observasi yang telah dibuat sehingga guru menyadari tingkat prestasi yang dicapai.
Ada beberap ciri-ciri dari supervisi klinis adalah; 1) hakikatnya supervisor dan guru sederajat dan saling membantu meningkatkan kemampuan profesionalism, 2) Fokus supervisi klinis pada perbaikan cara mengajar, bukan mengubah kepribadian guru, 3) balikan supervisi klinis didasarkan atas bukti pemgamatan, 4) bersifat konstruktif dan memberi penguatan pada pola dan tingkah laku yang telah dicapai, 5) Tahapan supervisi klinis merupakan kontinuitas dan dibangun atas pengalaman masa lampau, 6) Supervisi klinis merupakan proses memberi dan menerima yang dinamis, 7) guru mempunya kebebasan dan tanggung jawb untuk mengemukakan persoalan menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkannya, 8) Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara melakukan supervisi, 9) Guru mempunyai prakarsa dan tanggungjawab dalam meningkatkan kompetensi pedagogik, 10) Supervisor dan guru bersifat terbukadalam mengumpulkan pendapat dan saling menghargai.
4.    Pendekatan Artistik Dalam Supervisi Pengajaran
Menurut Good V. Carter, artistik adalah kegiatan manusia yang terarah pada pencapaian suatu tujuan, tetapi dalam pemkaian umum terbatas pada kegiatan yang melibatkan kemampuan kreatif kecerdikan pertimbangan dan keterampilan. Pendekatan artistik dalam supervisi pengajaran adalah setiap bentuk layanan bantuan profesional kepada guru-guru secara individu maupun kelompok dalam rangka perbaikan pengajaran dan perbaikan program kurikulum melalaui proses yang memerlukan intuisi, kreatifitas, kecerdikan, keterampilan yang dilakukan oleh supervisor dalam kegiatan supervisi yang belum disepakati secara tertulis dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dengan cara berusaha menyingkap pengajaran sekaligus menjangkau latar belakang guru. Pendekatan ini mempunyai ciri-ciri :
a.         Menerima kenyataan bahwa supervisor dengan segala kelebihan dan kekurangan, kepekaan dan pengalamannya merupakan instrumen pokok. Dengak kata lain supervisor yang memberikan makna atas segala kegiatan selama proses pembelajaran;
b.         Memerlukan hubungan yang baik anatara supervisor dan guru.
D.    Supervisi Klinis

1.    Pengertian Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

2.    Tujuan Supervisi Klinis
a.         Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
b.         Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
c.         Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
d.        Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran
e.         Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan.

3.    Prinsip Supervisi Klinis
a.         Hubungan antara supervisor dengan guru, kepala sekolah dengan guru, guru dengan mahasiswa PPL adalah mitra kerja yang bersahabat dan penuh tanggung jawab.
b.         Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan.
c.         Bersifat interaktif, terbuka, obyektif dan tiidak bersifat menyalahkan.
d.        Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan bersama.
e.         Hasil tidak untuk disebarluaskan
f.          Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru, dan tetap berada di ruang lingkup pembelajaran.
g.         Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan (pengamatan) dan tahap siklus balikan.

E.     Pembinaan Guru

1.     Petingnya Pembinaan Guru
Jadi salah satu masalah pokok yang dihadapi kepala sekolah, adalah bagaimana cara membina dan menumbuhkan profesionalisme tenaga kependidikan disekolah yang dipimpinnya, agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kemudian menerapkanya dalam rangka pengembangan sekolah. 
Dikaitkan dengan hak mereka, pasal 30 ayat 2 undang-undang no.2 tahun 1989 menyatakan bahwa tenaga kependidikan berhak memperoleh pembinaan karier yang sesuai dengan prestasi kerjanya. Sedangkan pasal 31 ayat 4, menyatakan bahwa tenaga kependidikan berkewajiban meningkatkan kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta perkembangan bangsa. Jadi pembinaan profesionalisme tenaga kependidikan (dengan harapan kariernya meningkat) sesuai dengan kebutuhan sekolah dan sekaligus sesuai dengan hak yang diterima mereka.
Profesional artinya mau bekerja dengan baik, sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan norma yang berlaku. Oleh karena itu menjadi profesional, paling tidak tenaga kependidikan harus memiliki syarat, yaitu : memiliki kemampuan yang baik, dalam aspek teori maupun praktis, sesuai dengan tugas yang diemban, sesuai dengan norma yang berlaku. Dengan demikian pembinaan profesionalisme tenaga kependidikan harus mencakup aspek besar itu, yaitu memiliki kemampuan teoritis, praktis sesuai dengan tuntutan pekerjaan, dan motivasi kerja.

2.    Prinsip-Prinsip Pembinaan Guru
Sebelum membahas bagaimana cara membina profesinalisme tenaga kependidikan, ada baiknya diketahui prinsip-prinsip dasarnya, karena banyak menjadi salah pengertian/salah konsep di masyarakat.
a.           Pembinaan tenaga kependidikan merupakan bagian dari program pengembangan sekolah
Pembinaan tenaga kependidikan bukan kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi harus merupakan bagian integral dari upaya pengembangan sekolah sebagai konsekwensinya pembinaan tenaga kependidikan harus sesuai dengan tujuan, target, dan tahap pengembangan sekolah. Sebagai contoh, jika dalam pembiaan tenaga kependidikan terdapat pengiriman guru atau tata usaha untuk mengikuti pelatihan, jenis dan materi pelatihan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan dan upaya pengembangan sekolah. Jika ada dua tawaran pelatihan dan sekolah harus memilih, maka criteria pemilihan harus didasarkan kesesuaian dengan program pengembangan sekolah. Karena merupakan bagian integral dari program pengembangan sekolah, maka program pembinaan tenaga kependidikan disusun berdasarkan tujuan dan target-target dari program pengembangan sekolah yang telah ditetapkan.
b.      Tujuan pembinaan tenaga kependidikan adalah meningkatkan mutu kinerja yang bersangkutan.
Tujuan pembinaan tenaga kependidikan bukan sekedar meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang bersangkutan, tetapi yang pokok adalah meningkatkan kinerja. Oleh karena itu, berhasil tidaknya pembinaan tenaga kependidikan harus diukur dari kinerja yang bersangkutan dan bukan dari tambahan pengetahuan dan atau keterampilan. Sebagai contoh, jika guru mengikuti program pembinaan melalui serangkaian kegiatan MGMP, maka hasilnya harus dilihat dari peningkatan mutu kegiatan pembelajaran yang dibina dan hasil belajar siswanya. Jika tata usaha mengikuti program pembinaan melalui pelatihan administrasi sekolah, maka hasil harus dilihat. Apakah setelah itu adminitsrasi sekolah menjadi yang menjadi tanggung jawabnya menjadi lebih rapih, arsip/dokumen dapat dicari dengan cepat, seterusnya. Jika kepala sekolah mengikuti pelatihan manajemen, maka hasilnya harus dilihat dari peningkatan manajemen sekolah.
Jadi hasil program pembinaan tenaga kependidikan diukur dari keberhasilan yang bersangkutan dalam menerapkan teori dan praktek yang diperoeh ke dalam tugas-tugasnya di sekolah, dan bukan sekedar meningkatkan kemampuan yang bersangkutan.
c.       Pembinaan profesionalisme tenaga kependidikan adalah program jangka panjang dan berkesinambungan
Seperti halnya program kependidikan pada umumnya, pembinaan tenaga kependidikan memerlukan waktu lama sampai hasilnya signifikan dan menetap. Berbagai hasil studi menunjukkan bahwa program pengembangan tenaga kependidikan yang berjangka pendek dan tidak di tindak lanjuti dengan program berikutnya dan atau program pendukung, akan hilang dan kinerja yang bersangkutan kembali seperti sebelum ada program pembinaan dilakukan. Mengapa demikian, karena pembinaan profesionalisme tenaga kependidikan pada dasarnya lebih merupakan pengubahan sikap dan perilaku, sehingga memerlukan serangkaian program yang berkesinambungan
Sebagai contoh, program pembinaan tenaga pustakawan sekolah dengan mengirim mereka ke suatu pelatihan, maka pembinaan harus terus dilanjutkan setelah yang bersangkutan pulang kembali ke sekolah. Misalnya dengan meminta guru, staff tata usaha dan siswa untuk mendukung program tersebut, memberi dukungan moral, supervise, dan member reward jika telah menunjukan hasil yang positif. Dukungan semacam itu bukan semata-mata pemberian fasilitas agar program yang disusun berhasil, tetapi memberikan kepecayaan diri bahwa dia mampu melaksanakan, dan pada akhirnya membutuhkan motivasi kerja.
Perlu dicatat, bahwa penumbuhan kepercayaan diri dan motivasi semacam itu sangat penting dan bukan menjadi kunci keberhasilan pembinaan tenaga kependidikan. Dengan kepercayaan diri dan motivasi kerja yang baik, yang bersangkutan akan berusaha meningkatkan pengetahuan dan upaya lain guna mewujudkan program kerjanya, yang tidak lain adalah bagian dari program sekolah. Hanya saja perlu dicatat, bahwa penumbuhan rasa percaya diri dan motivasi kerja perlu waktu cukup lama, sehingga pimpinan harus telaten membinanya.
d.      Pelatihan bukan satu-satunya pilihan dalam pembinaan profesionalisme tenaga kependidikan.
Saat ini banyak orang menafsirkan bahkan satu-satunya cara peningkatan profesionalisme sumberdaya manusia, termasuk tenaga kependidikan, adalah melalui kependidikan atau pelatihan. Penafsiran semacam itu kurang tepat bahkan menyesatkan. Seakan-akan ketika di sekolah atau sedang bekerja tidak perlu ada upaya pembinaan tenaga kependidikan. Bahkan beberapa studi menunjukkan bahwa program kependidikan atau pelatihan guru baru dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jika ketika yang bersangkutan pulang diberi dukungan untuk menerapkan hasilnya dikelas.

3.     Cara-cara Pembinaan Profesionalisme
        Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa pembinaan tenaga kependidikan bertujuan untuk meningkatkan kinerja mereka dan harus dilakukan secara terus menerus, sepanjang yang bersangkutan masih bekerja. Disamping itu, pembinaan harus sesuai arahnya, harus sesuai dengan tugas/fungsi yang bersangkutan dalam program sekolah. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk maksud itu, antara lain :
a.       Mengirim untuk mengikuti program pendidikan atau pelatihan.
Harus diakui bahwa secara umum kemampuan tenaga kependidikan di Indonesia masih rendah, sehingga salah satu langkah pembinaannya adalah mengirim untuk mengikuti program pendidikan dan atau pelatihan. Pendidikan atau pelatihan dapat menyangkut peningkatan atau pendalaman materi dan atau strategi pembelajaran, termasuk cara mengevaluasinya.
Program pendidikan sebaiknya diarahkan bagi mereka yang belum memiliki tingkat pendidikan yang dipersyaratkan, misalnya masih banyak guru SMA yang berlatar pendidikan D2 atau D3, sehingga perlu didorong untuk mengikuti pendidikan S-1.
Perlu diingatkan bahwa program S-1 yang diambil harus diarahkan sesuai bidang studi/mata pelajaran yang dibina di sekolah. Hal itu perlu ditekankan, karena masih banyak guru yang mengikuti pendidikan tetapi tidak sesuai dengan bidang studi yang dibina sehingga kemanfaatan terhadap peningkatan pembelajaran disekolah kurang optimal.
Program pelatihan sebenarnya cukup banyak tersedia bagi tenaga kependidikan. Disamping yang disediakan (dibiayai) oleh Ditjen Dikdasmen, banyak pelatihan yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi sebagai kegiatan pengabdian pada masyarakat, oleh lembaga-lembaga pelatihan, dan oleh lembaga masyarakat. Yang penting dilakukan oleh pimpinan adalah mencarikan peluang, sehingga guru / staf dapat mengikuti pelatihan.
b.      Mengikuti Pertemuan Profesi Secara Reguler
Pertemuan profesi, seperti MGMP, MGP, MKKS dan sejenisnya merupakan wahana yang sangat baik untuk pendiseminasikan pengetahuan, keterampilan, atau hasil-hasil penelitian, antara rekan seprofesi. Misalnya dalam perteuan MGMP seorang guru yang baru mengikuti suatu pelatihan dapat mendiseminasikan hasil pelatihan yang diikuti. Demikian juga, kepala sekolah yang melakukan penelitian tentang cara pembinaan staf yang efektif, dapat mendiskusikan hasil pertemuan MKKS.
Sebagai pertemuan pembinaan tenaga kependidikan, mengirim guru / staf mengikuti pertemuan profesi adalah untuk meningkatkan kinerjanya, kepala sekolah perlu memantau dan mendorong guru/staf yang bersangkutan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pertemuan profesi tersebu guna meningkatkan kinerjanya. Hal itu dapat dilakukan secara periodic, meminta laporan hasil pertemuan (lisan dan tulisan) dan bagaimana penerapannya di sekolah. Dengan cara itu, diharapkan manfaat pertemuan profesi betul-betul dapat sampai pada peningkatan kinerjanya yang bersangkutan.
c.       Menyediakan Sarana/prasarana untuk Belajar Sendiri
Tenaga kependidikan selalu dituntut untuk meningkatkan pengetahuannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu mereka memerlukan sarana, khususnya bahan bacaan dapat dilakukan disela-sela tugas sehari-hari, tanpa harus meningkatkan tugas pokok.
Harus diakui bahwa untuk dapat membeli buku, majalah/jurnal, dan makalah secara periodic diperlukan untuk dana yang cukup besar. Namun demikian, mengingat pentingnya dalam mendukung pembinaan profesionalisme tenaga kependidikan, tetapkan dianjurkan, khususnya bagi sekolah yang memiliki cukup anggaran. Disamping itu, sekolah perlu mencari kiat-kiat untuk dapat menyediakan sumber bacaan tanpa harus membeli.
d.      Mendorong untuk Mengajukan, Membuat, dan Melaksanakan gagasannya dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Sekolah
Seperti disebutkan terdahulu bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tenaga kependidikan dari berbagai kesempatan, akhirnya harus diimplementasikan dalam tugas sehari-hari guna meningkatkan kinerjanya. Seringkali hal semacam itu merupakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang selama ini telah dilaksankan. Oleh karena itu, diperlukan kemauan dan keberanian dari yang bersangkutan untuk mencoba sesuatu yang baru dan lain dari biasanya. Kemauan diperlukan, karena penyempurnaan semacam itu seringkali memerlukan kerja lebih repot dibanding sebelumnya. Keberanian diperlukan, karena hal semacam itu seringkali ditentang atau paling tidak mendapat hambatan dari rekan sejawat atau pihak yang lain kurang setuju.
e.       Melaksanakan Supervisi dan Memberikan Reward Bagi Mereka yang Berprestasi.
Ketika guru dan staf melaksanakan tugasnya, secara periodik kepala sekolah perlu melakukan supervise, dengan tujuan membantu jika mereka mengalami kesulitan, membentuk jika yang bersangkutan melakukan kesalahan.
Sebagai pemimpin, kepala sekolah perlu memberikan reward (penghargaan) kepada setiap staf yang telah melakukan tuganya dengan baik. Penghargaan dapat diberikan berupa piagam, surat ucapan terimakasih, mengumumkan dalam suatu acara tertentu, bahkan meminta yang bersangkutan menceritakan pengalamannya sehingga dapat mengerjakan tugasnya dengan sukses

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan

Kegiatan supervisi pendidikan memiliki esensi pada sebuah pembinaan dalam rangka membantu meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar guru di kelasnya dan dilaksanakan secara terprogram. Supervisi pendidikan dapat diartikan bahwa supervisi pendidikan merupakan bentuk pembinaan dalam peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru agar dapat menuju ke arah yang lebih baik.
Fungsi dari supervisi pendidikan yaitu untuk menyelenggarakan inspeksi (pengawasan), penilaian, latihan dan pembinaan. Tujuan supervisi pendidikan adalah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar kearah yang lebih baik.
Mutu pendidikan di sekolah dapat diartikan sebagai kemampuan sekolah dalam mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen-komponen menurut norma atau standar yang berlaku.
Indikator keberhasilan mutu di sebuah sekolah harus dapat menjawab indikator-indikator keberhasilan di bawah ini, yakni  spesifikasi lulusan atau produk, mutu layanan yang baik, kompetensi profesional guru, ketersediaan fasilitas belajar, mutu kehidupan dan budaya organisasi, keterlibatan pengelolaan dana pendidikan, kepedulian masyarakat atau dewan sekolahdan pemberdayaan manajemen sekolah.

B.       Saran

Dalam rangka upaya meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar guru di kelasnya dan dan tercapainya suatu program pendidikan, seorang pendidik atau pembimbing dipandang perlu memantapkan lagi tentang cara-cara pelakasanaan pengelolaan supervisi pendidikan dan pengelolaan mutu pendidikan agar dapat didaya gunakan secara optimal.













DAFTAR PUSTAKA