Agar Bidadari Cemburu Padamu



Ummu Ismail
            Wanita pertama, yang menggunakan ikat pinggang adalah Ibu Ismail, begitu kata Ibnu Abbas. Ia memakainya untuk merahasiakan kehamilannya dari pandangan Sarah. Kemudian Ibrahim membawanya beserta sang putera, Ismail yang saat itu masih menyusu dan menempatkannya di Baitullah, dekat pohon besar di samping zam-zam sekarang, di punca masjid.
            Ketika itu, tak seorangpun tinggal di Mekkah, tiada air, namun Ibrahimtetap menempatkan mereka disana. Ia tinggalkan disamping mereka sekeranjang kurma dan sekantong air. Lalu berpanlinglah Ibrahim meninggalkan keduanya.
            Makan Ummu Ismail mengejar dan mengikutinya sambil berkata, “Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang kosong, tak ada satupun manusia, dan juga tak ada sesuatu apapun ?” Ia menanyakannya berkali-kali. Tetapi Ibrahim tak menoleh sedikit pun.
            Lalu, ia pun mengganti pertanyaannya. “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini ?”, katanya. Ibrahim menjawab, “Ya...!”. “Kalau begitu. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kami!”, kata Ummu Ismail. Kemudia ia kembali ke tempat semula.
            Ibrahim berangkat hingga ke suatu tempat. Saat Ismail dan sang istri sudah tak lagi melihat dirinya, ia menghadapkan wajah ke Baitullah. Ia berdoa dengan mengangkat tagannya sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an, “Ya Rabb kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku dilembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan karuniakanlah pada mereka rizki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur!”. (Q.S. Ibrahim : 7).
           
Sumber : buku Agar Bidadari Cemburu Padamu (karya Salim A. Fillah)

Ikhlas


Terbayanglah seorang lelaki yang menua dalam darmanya sebagai Rasul. Sepanjang luahan bakti pada Ilahi itu, terselip suatu penantian. Tak juga hadir sesosok kecil yang akan memanggilnya “Ayah!”. Tak juga wujud si mungil  yang akan naik ke punggung yang menjadikannya tunggangan keliling ruang. Harapannya untuk memiliki pelanjut agama Allah yang lurus dari sulbinya telah lama digayutkan di langit dengan temali doa. Harapan itu tak pernah hilang. Memang tak makin tinggi. Hanya makin dalam. Makin syahdu. Hingga ketika rambutnnya memutih, Ibrahim pun menuai buah kesabaran dan baiksangkanya pada Sang Pencipta. Lahirlah Ismail, seorang putera yang santun, amat sabar, dan bijaksana.
Lalu bayangkanlah ktika sang Ayah, yang menyayangi puteranya bagai kakek menggayun cucu itu diperintahkan meninggalkan si bayi merah itu dan Ibunya di padang grsang tak bertanaman. Allah yang memberinya kesabaran menanti.allah yang mengaruniakan buah hati. Allah juga yang memerintahkan mereka harus berpisah. Berpisah tanpa janji untuk berjumpa lagi. Ringankah itu bagi Ibrahim ? Jawaban paling jujur adalah “tidak”.
Dan bayangkan seorang Ayah yang tak menyaksikan bagaimana tumbuh kembang puteranya. Ketika anak itu sampai pada umur sanggup membantu kerja-kerjanya, ia didatangi mimpi sejati riga malam berulang dan berturut-turut. Sebuah gambar yang jelas, sebuah tayangan yang tak bisa dilaintafsir. Ia menyembelih Ismail. Dan itu adalah perintah dari Allah. Sesudah penantian, ada kelahiran sekaligus perpisahan. Sesudah perpisahan ada pertemuan, lalu perintah membunuh sang pengobat rindu. Dengan tangannya sendiri. Ringankah itu bagi Ibrahim ? Jawaban paling jujur adalah “tidak”.
Tapi apah Ibrahim kita tuduh tak ikhlas ? alangkah lancang. Ibrahim ikhlas. Tentu saja ikhlas. Dan dialah salah satu makhluk terikhlas yang pernah tampil di pentas bumi. Keiklhlasan memang tak selalu tumbuh dari rasa ringan dalam melaksanakan perintah. Ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat mengalahkan nafsu diri. Pengorbanan. Begitu kita menyebutnya.
Maka demikianlah, di jalan cina para pejuang makna ikhlas dibebaskan dari pasungan perasaan. Dari rasa ringan atau berat. Hingga Allah memerintahkan kita untuk tetap berangkat, baik merasa ringan ataupun berat.
“berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupn berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. At-Taubah : 41).

Sumber : buku Jalan Cinta Para Pejuang (karya Salim A. Fillah)